Jumat, 28 November 2008

MENDEKAP KEUMALA (Resensi Majalah Acehkini)

Novel ini merekonstruksi kembali sosok Keulamahayati, Laksamana ternama dari Nanggroe. Daerah yang dikabarkan pernah jaya di masa raja-raja.


Judul : Perempuan Keumala
Penulis : Endang Moerdopo
Penerbit : PT Grasindo, 2008
Tebal : 350 halaman + xii

Dapatkah sebuah kematian orang tercinta membelokkan jalan kehidupan seorang perempuan? Menjadikan sebuah ketegaran untuk membela kaumnya, para janda. Kendati tak begitu drastis, perubahan itu telah ditorehkan Endang Moerdopo penulis asal Jogjakarta dalam novelnya, Perempuan Keumala.

Novelnya berkisah tentang Keumalahayati, Laksamana Perempuan pertama kerajaan Aceh, yang hidup pada abad ke-16. Menjadi pemimpin armada laut selat malaka setelah kehilangan kakanda tercinta. Sebuah fakta (mungkin) sejarah yang pernah berlaku di tanah Aceh, dicampur bersama fiksi dalam sebuah perenungan yang dalam.

Keumala, perempuan itu sempat mengenyam indah dan kemudian roboh secara psikologis, setelah perang mengambil cintanya. Dia tak larut lama hingga bangkit memimpin sambil menyingkirkan fitnah yang mendera, dari kaum yang iri dan pengejar dirham di lingkaran istana.

Endang, sang penulis sedang berkisah tentang cinta, dendang kematian, hingga nasehat serta rekontruksi sebuah bangsa digambarkan besar, tapi tak pernah sepi dirudung perang. Bahkan bangsa yang masai oleh pertikaian tak kunjung henti dalam tubuhnya sendiri.

Kisah berawal saat Keumala, tokoh utama dalam remaja. Dia hidup dalam suka dan cinta ketika mengikuti pendidikan militer di Kutaraja. Cerita mengalir indah dalam dialog-dialog panjang tentang perkawanan para sahabat. Sampai kemudian Keumala melengkapkan kebahagiaan saat berjodoh dengan Tuanku Mahmuddin, si abang kelas yang menaruh hati pada mata indahnya.

Dengan cantelan naratif yang mengalir kuat sejak lembar awal, Perempuan Keumala bergerak cepat. Membawa pembaca menelusuri eksotisme Nanggroe dalam perang laut yang dipimpin langsung Sang Sultan Aceh, Alaiddin Riayat Syah dengan Panglima Laot Selat Malaka, Tuanku Mahmuddin, suami Keumala.

Perang bersama Portugis di Laut Haru, Selat Malaka tak digambarkan detail. Tapi disitulah kisah hidup Keumala direkatkan pada jalan perang. Tuanku Mahmuddin shyahid saat membela Sultan. Keumala janda.

Sultan membebaskan Keumala dari duka, dia dinobatkan untuk mengganti suaminya sebagai Panglima Laot Selat Malaka. Iri muncul dari petinggi istana lainnya. Lalu kisah diceritakan sebagai konflik dalam kerajaan, merebut simpati sultan.

Nanggroe adalah perang yang nyaris abadi sejak lama. Keumala menjadi kepercayaan sultan dan lahirlah Armada Inong Balee yang dipimpinnya sendiri. Pasukan berasal dari para janda yang suaminya meninggal bersama Mahmuddin.

Jadilah Laksamana Keumalahayati sebagai perempuan perkasa yang memimpin perang, menghibur para janda, berlatih bersama, menghitung strategi sampai kepada mengirimkan mata-mata untuk menelusuri pedagang-pedagang curang di sepanjang Selat Malaka.

Penulis mengakhiri kisah dengan perkelahian melawan pedagang dari Belanda. Cornelis de Houtman, orang yang dalam sejarah disebut sebagai Belanda pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Dia mati setelahnya di tangan Keumala dalam sebuah pesta di Laut Krueng Raya.

Perempuan Keumala menjadi penting karena inilah novel sejarah yang menulis tentang Laksamana Perempuan pertama Aceh itu. Endang menyuguhkan fiksi yang dicampur kisah sejarah di dalamnya. Membacanya adalah membaca perempuan Aceh yang gagah perkasa.

Alur cerita pas, tapi penulis sedikit berpretensi ketika menjadikan Keumala tokoh yang berani menghadapi segala tantangan. Pengecutnya digambarkan manusiawi dan magis, dan hanya sedikit, ketika anaknya diculik. Dia diguna-gunai dengan mantra Tapak Tuan dan setelah lepas, Keumala melesat tanpa cacat.

Lainnya, Perempuan Keumala menyuguhkan sebuah dialog-dialog yang kadang panjang dan membosankan. Percakapannya kurang makna, berlebihan di deskripsi alam dengan laut dan daratannya, tokoh dengan pakaian dan lakonnya serta suasana yang dibuat-buat, kadang terbaca tak indah lagi.

Tapi apapun, Endang telah menulisnya untuk Nanggroe, sebagai bahan renungan generasi depan. Bahwa perempuan Keumala pernah ada dalam bingkai pikiran kita. Merawatnya adalah tradisi, mengingatkan perempuan kita, telah jaya sejak silam, dalam fiksi ataupun nyata. ***

[Adi Warsidi, Majalah Acehkini, Oktober 2008]
Selengkapnya...

Senin, 29 September 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah



Selengkapnya...

Kamis, 18 September 2008

Ungkapan Rasa Terima Kasih

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga waktu yang sangat mendebarkan itu.
Dengan penuh kebanggaan, aku bisa mempersembahkan karyaku ini bagi pembaca semua.

Kini PEREMPUAN KEUMALA telah lahir, sebagai sebuah tanda kasihku pada bangsaku dan tumpah darahku, Indonesia tercinta.

Dan sejak ini pula, PEREMPUAN KEUMALA bukan hanya milik masyarakat Aceh saja, namun juga milik masyarakat Indonesia, bahkan milik dunia. Semoga kita bisa meneladani nilai-nilai perjuangan yang telah dibuktikannya bagi tanah tercinta.

PEREMPUAN KEUMALA, juga kupersembahkan kepada pembaca tercinta saudara-saudaraku di tanah Nanggroe. Ini adalah hasil jerih payahku selama aku berada disana. Hasil ini tak akan pernah habis dimakan waktu. Bagiku tulisan ini adalah abadi seumur hidupku.

Ini bukan sebuah akhir, namun ini adalah tonggak awal aku harus memulai lagi kerja kerasku untuk langkah selanjutnya.

Terima kasih banyak atas semua dukungannya, baik moril maupun materiil.

Salam,
Endang Moerdopo



Selengkapnya...

Menelanjangi Kiprah Elite


















Komentar ini disampaikan melalu Mas Prasetyo (Mas Prasetyo adalah orang yang mempertemukan penulis Perempuan Keumala dengan pihak penerbit Grasindo, saat ini bekerja di RCTI)

Berikut komentar Sugeng Ap:

Pras,

Aku sudah membacanya, sampai halaman 200 dari siang hingga petang ini, luar biasa karya tulis Mbak Endang
entahlah, saya bisa bandingkan dengan tulisan siapa,
karya Rm Mangun Wijaya, lebih darinya
karya Pramudya Anantatoer, lebih darinya
novel sejarah majapahit(gajah mada), lebih darinya.
karya novelis modern lainnya, lebih darinya.
Mungkin setara novel Krakatau, yang ditulis oleh seorang geolog. Alur dramatik dan konfliknya, tonasi pesannya, diskripsi tekstur alamnya, dialek bahasanya...

Ini luarbiasa cermat,
spirite kewanitaan jadi spirite hidup (bukan kehalusan jawa yang kadang justru sebagai alat kejahatan sempurna para penguasa), konteks politik, ekonomi, globlisasi kini yang menindas rakyat, dibuka gamblang oleh Perempuan Keumala lewat novel, yang memudahkan rakyat sederhana untuk menemukan gambar Indonesia sesungguhnya.

Menelanjangi kiprah elite.Sangat cocok jadi bacaan wajib pelajaran sejarah di SMP, SMA.

Untung terbit di era reformasi!


Yang baru saja menemukan (Mbak Endang) pengeras suara jeritan hati rakyat,

sugeng ap
Selengkapnya...

Senin, 15 September 2008

Sisi Romantis yang Hilang
















Membaca novel "Perempuan Keumala" saya diajak berwisata ke peristiwa masa lalu yang begitu hidup dan penuh warna. saya terpesona bagaimana penulis mampu menghadirkan setting dan pergulatan Aceh, dalam hal ini kerajaan Darud Donya dari sisi internal dan eksternal, baik dalam konteks relasi kuasa, kepentingan dan persaingan dagang antar bangsa. lalu dalam setting itu perempuan keumala berada di tengah poros penceritaan yang begitu hidup dan penuh karakter dalam menghadapi dinamika cinta dan asmara, pantang menyerah menghdapi kisah luka dan duka karena kematian suami dan raibnya sang anak yg tak jelas rimbanya. dinimika intrik dan kuasa, pertarungan antara loyalitas dan pembelaan akan harga diri dan martabat bangsa ditengah keserahan mengejar harta menjual aset bangsa.

Sungguh menarik, karena disini Keumala tidak sekedar menjadi sosok juang pembela tanah leluhurnya, dari penghianat bangsanya, juga bangsa asing. Lebih dari sekedar itu, Keumala benar-benar menjadi pejuang bagi nasib kaumnya, para perempuan janda. Pasukan inong balee yang diorganisir ini, membuat perempuan aceh memiliki sejarah keemasan, legenda hidup yang akan terus menginspirasi siapapun yang menentang pembedaan (diskriminasi) kaum perempuan. Tidak saja bagi orang aceh, namun bagi manusia di tempat manapun…

Membaca dari bab ke bab novel ini terasah renyah, mengalir menepis kebosanan. Namun ada peralihan dari bab 1 menuju bab 2 yang terasa agak mengganggu. Ada bagian yang terputus untuk merangkai dari bagian satu menuju bagian dua.

Pada bagian satu (pendidikan militer...) diceritakan dengan indah bagaimana pertemuan Keumala dengan Mahmudin bin Said al-Latif……teman bermainnya kala kecil. sama-sama tumbuh besar, mejalin pelatihan kemiliteran……setelah sekian lama tidak bertemu kemudian bertemu kembali dalam hasrat cinta yang saling menyapa…bergetar dengan penuh di hati dan saling mengagumi antar keduanya, meskipun tidak saling berucap kata karena ada rasa malu itu. Meskipun hati keduanya saling menyapa begitu mendalam sehingga menanggalkan kesan yang tak putus terlupakan…

Bagian ini ditutup dengan kalimat yang indah dan apik...”mungkin benar begitu..tapi masih harus menunggu waktu…karena kini saatnya untuk menuntut ilmu, bukan lebih dahulu kalbu menjadi nomer satu…(hal.53). Kalimat ini menegaskan Keumala lebih komit pada tuntutan menuntut ilmu dengan menunda untuk sementara pencapaian cintanya dengan Mahmudin…

Ketika masuk untuk menikmati cerita pada bagian dua (dendang kematian…) tiba-tiba pembaca langsung dihadirkan dengan sebuah cerita Perempuan Keumala sedang menghadapi peristiwa kematian suaminya (khususnya di hal 74). Bagi pembaca, seperti saya, mungkin juga pembaca yang lain, kisah cinta dalam novel biasanya selalu mendebarkan dan memunculkan rasa penasaran berkelanjutan……namun ketika di bagian dua tak satupun ada kalimat atau paragraf yang mengurai…akhirnya cinta Keumala dan Madmudin itu berpadu dalam berenda pernikahan sebagai sepasang suami isteri…..terasa ada yang hambar, ada sisi romantis yang hilang menguap dengan begitu saja…



Penikmat Novel “Perempuan Keumala”
Abdur Rozaki
Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta




Selengkapnya...

Video Klip Perempuan Keumala

Pesan Anda

Silahkan kirim pesan anda disini dengan identitas dan email yang benar. Terimakasih.

Nama
Email
Judul
Pesan
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

Suara Pembaca

Terimakasih Telah Mengunjungi Blog Perempuan Keumala, Silahkan Isi Pesan Anda pada box Hubungi Kami atau Buku Tamu dan pada box Komunitas

musik aceh

 
© template modification by Perempuan Keumala